Pilih Laman
inChanger

Uang kripto tengah booming. Para investor mulai beralih ke “mata uang” digital tersebut.

Namun beberapa waktu ini, banyak kasus kriminal terjadi di tengah viralnya cryptocurrency. Salah satunya terjadi di Turki dan menambah daftar hitam kejahatan investasi kripto.

Kejaksaan Turki menggelar penyelidikan terhadap pendiri salah satu exchanger kripto yang diduga membawa kabur dana US$ 2 miliar (setara dengan Rp 29 triliun). Melansir AFP, peristiwa ini terjadi di Ibukota Turki, Istanbul.

Ini bermula saat situs web Thodex, exchanger kripto, sudah tidak lagi bisa diakses. Itu terjadi pasca sebuah pengumuman diposting berisi penangguhan perdagangan selama lima hari karena investasi luar yang tidak ditentukan.

Pejabat keamanan Turki kemudian merilis foto pendiri Thodex bernama Faruk Fatih Ozer. Ia sedang melalui pemeriksaan paspor di bandara Istanbul dalam perjalanan ke lokasi yang tidak ditentukan.

Laporan media lokal mengatakan Ozer, dilaporkan berusia 27 atau 28 tahun, telah terbang ke Albania atau Thailand. HaberTurk dan media lain negeri itu mengatakan Thodex ditutup setelah menjalankan kampanye promosi yang menjual Dogecoin dengan potongan harga besar, tetapi tidak mengizinkan investor untuk menjual.

“Para korban panik,” kata pengacara investor Oguz Evren Kilic seperti dikutip oleh HaberTurk.

“Mereka mengajukan pengaduan ke kantor kejaksaan di kota tempat mereka tinggal.”

Dalam laporan disebut, ada 391.000 investor di Thodex. Jaksa melakukan penyelidikan terhadap pengusaha tersebut atas tuduhan “penipuan yang diperburuk dan mendirikan organisasi kriminal”

Sebelumnya, Thodex memang meluncurkan kampanye agresif untuk memikat investor. Bahkan berjanji mendistribusikan mobil mewah melalui kampanye iklan mencolok yang menampilkan model-model Turki yang terkenal. Platform kemudian meluncurkan drive Dogecoin-nya.

Di Turki, mata uang kripto sangat populer di kalangan muda yang ingin mempertahankan tabungan mereka di tengah penurunan tajam nilai mata uang lira. Namun, pasar kripto tidak diatur di Turki.

Padahal, sinyal skeptis muncul dari pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan tentang keamanan dan penggunaan mata uang digital ini. Bank sentral Turki juga telah memutuskan untuk melarang penggunaan mata uang kripto dalam pembayaran barang dan jasa mulai 30 April.

“Dompet dapat dicuri atau digunakan secara tidak sah tanpa izin dari pemegangnya,” bank sentral memperingatkan pekan lalu.

Lalu di RI bagaimana?

Sementara itu di Indonesia,kejahatan seperti ini juga terjadi. Bareskrim Mabes Polri menetapkan enam orang tersangka terkait kasus dugaan penipuan investasi E-Dinar Coin Cash atau EDCCash.

Salah satu tersangka yang ditetapkan adalah adalah CEO EDCCash, Abdulrahman Yusuf (AY). Bahkan penggeledahan terhadap rumahnya telah dilakukan.

“Sampai saat ini dalam kasus tersebut ada 6 tersangka yang diamankan dan dilakukan pemeriksaan di Bareskrim Polri,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan, dikutip dari detikcom 20 April lalu.

Selain rumah AY, polisi juga menggeledah rumah tersangka lain H di Sukabumi, Jawa Barat, dan menyita sejumlah barang bukti. Para tersangka ditangkap atas laporan bernomor LP/135/2021/Bareskrim tanggal 22 Maret 2021.

Mereka dijerat atas dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Saat ini kepolisian juga tengah melakukan penelusuran terhadap korban yang terus bertambah.

“Investasi atau perdagangan kripto ilegal tanpa izin OJK dan Bappebti dengan menggunakan aplikasi EDCCash,” katanya.

EDCCash sudah masuk dalam daftar investasi ilegal sejak Oktober 2020. EDCCash atau E-Dinar Coin Cash diklaim merupakan sebuah platform untuk menambang aset digital.

EDCCash, dalam penjelasannya, merupakan perusahaan aset uang kripto yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran. Kasus ini mulai mencuat setelah beberapa member mendatangi rumah AY, dan mempertanyakan soal pencairan uang kripto EDCCash.

Salah seorang korban bernama Diana menjelaskan para member kesulitan mencairkan koin uang kripto. Selain itu, para member tidak mendapatkan pencairan yang sesuai dengan yang semestinya.

“Koin yang (seharusnya cair) sekian ratus juta, harusnya dari uang segitu, sekarang (cairnya) jadi beberapa receh. Kayak koin saya misalkan dari satu akun itu Rp 800 juta yang harus dijual atau yang saya dapatkan, kok sekarang cuma (cair) Rp 11 juta,” ujar salah satu member EDCCash, Diana.

Member lainnya pun mengakui kesulitan mencairkan uang kripto sejak 6 bulan ke belakang. Pihak EDCCash beralasan masalah pencairan karena ada perbaikan sistem.

“(Masalah) sistem, potongan fee, dan lain-lain. Setiap hari itu (ada) perubahan (sistem), jadi ‘PHP’,” ujar Diana.

Diana sendiri memiliki beberapa member atau yang disebut ‘downline’. Semua member-nya menitipkan uang ke Diana untuk dibelikan koin, yang mana saat ini koin tersebut tidak bisa dicairkan menjadi uang.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20210424215513-17-240582/heboh-bos-kripto-bawa-kabur-duit-triliunan-ada-juga-di-ri/2

inChanger